Belakangan ini, kota asal saya, Middletown, Ohio, menjadi sorotan media setelah para peretas berhasil mengganggu sistem penagihan air dan layanan lainnya. Insiden ini menimbulkan pertanyaan yang sangat relevan: mengapa kota-kota semakin menjadi sasaran empuk bagi peretas, dan apa yang dapat dilakukan oleh penyedia layanan terkelola (MSP) dan pejabat keamanan informasi (CISO) untuk melindungi pemerintah daerah? Saya berbicara dengan Joshua Copeland, Direktur Keamanan Siber di Crescendo AI dan Profesor di Universitas Tulane, untuk mendalami bagaimana MSP dan pemerintah kota bisa bekerjasama. Dengan tegas, Copeland mengatakan, “Kota-kota tidak diserang karena mereka menarik perhatian, tetapi karena mereka mudah dijangkau, dapat diprediksi, dan tidak siap.” Solusi utamanya, menurutnya, cukup sederhana: menghilangkan tiga keuntungan ini bagi para penyerang. Strategi Cepat untuk Melindungi Kota dari Serangan Siber 1. Asumsikan Kompromi dan Bangun untuk Pemulihan Ransomware masih menjadi ancaman utama bagi kota-kota. Salinan cadangan yang tidak dapat diubah dan disimpan di lokasi yang aman, serta rencana pemulihan yang telah diuji, harus menjadi prioritas. Copeland menekankan, “Jika Anda tidak bisa mengembalikan sistem penting dalam jangka waktu yang realistis, Anda bukanlah organisasi yang tangguh—Anda hanya beruntung sejauh ini.” 2. Perkuat Identitas dan Email Terlebih Dahulu Banyak pelanggaran dimulai dari serangan phishing dan kontrol identitas yang lemah. Untuk itu, penerapan otentikasi multi-faktor (MFA) di semua platform, memperketat akses istimewa, serta memperkuat pertahanan email melalui pemeriksaan URL dan lampiran sangatlah penting. Perlindungan dari pemalsuan identitas untuk walikota, anggota dewan, dan staf keuangan harus menjadi prioritas utama. 3. Segmentasi Jaringan Seperti Kehidupan Anda Bergantung Pada Itu Banyak jaringan kota memiliki struktur datar, di mana berbagai layanan seperti kantor pemerintah, kepolisian, dan sistem teknologi operasional berbagi jaringan yang sama. Segmentasi jaringan dasar, pemisahan lapisan administrasi, serta pengaturan aturan firewall yang ketat dapat membatasi dampak serangan setelah peretas berhasil masuk ke dalam sistem. 4. Patching Berdasarkan Realitas Bisnis, Bukan Fantasi Lingkungan kota sering kali dipenuhi dengan sistem warisan dan aplikasi khusus yang sulit untuk diperbarui. MSP dan CISO harus memprioritaskan patching berdasarkan metrik eksploitasi, seperti EPSS (Exploit Prediction Scoring System) dan Kerentanannya yang Sudah Dikenal, serta fokus pada sistem yang memiliki eksposur eksternal. Jika patching tidak memungkinkan, risiko yang diterima harus didokumentasikan dengan jelas. 5. Latih Pegawai Seperti Mereka Bagian dari Pusat Operasi Keamanan Petugas administrasi, keuangan, operator 911, dan petugas di bidang pekerjaan publik perlu menerima pelatihan yang sering dan spesifik sesuai dengan peran mereka. Tujuannya adalah untuk mendeteksi dan melaporkan insiden dengan cepat, bukan untuk menyalahkan atau menghukum mereka. Perkembangan Lanskap Ancaman Menurut Copeland, yang juga menjabat sebagai Wakil Komandan Cadangan Siber Louisiana State Guard, sifat serangan yang menargetkan kota-kota telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir: 1. Dari Serangan Opportunistik ke Target Komersial Kelompok ransomware kini lebih strategis dalam menargetkan kota, menyadari dampak politik dan publik dari gangguan operasional. Hal ini membuat respons insiden yang kuat menjadi sangat penting. 2. Konvergensi Risiko TI dan OT Sistem kota pintar—seperti kontrol lalu lintas, fasilitas air dan limbah, manajemen bangunan, dan sensor IoT—semakin terekspos ke dunia luar. Konfigurasi akses jarak jauh yang salah dan sistem kontrol yang sudah tua dapat meningkatkan potensi gangguan fisik dan kehilangan data. 3. Pencurian Data dan Pemerasan, Tidak Hanya Enkripsi Ransomware modern sering mencuri data terlebih dahulu sebelum mengenkripsi file. Pemerintah daerah menyimpan banyak informasi sensitif, seperti data pribadi, data penegakan hukum, catatan siswa, dan peta infrastruktur, yang menjadikan eksfiltrasi data sebagai risiko serius, meskipun sudah ada cadangan. Lima Ancaman Terbesar bagi Kota Menurut Copeland, ada lima ancaman utama yang dihadapi oleh kota-kota: 1. Ransomware dan Kompromi Email Bisnis Ransomware mengganggu operasional, sementara BEC (Business Email Compromise) menguras dana melalui penipuan faktur, aliran gaji yang salah, dan transfer uang palsu—sering kali tidak dilaporkan. 2. Sistem Warisan yang Tidak Bisa Dipatch atau Diganti Sistem lama seperti aplikasi peradilan, pajak, izin, dan dispatch 911 sering kali tidak dapat diperbarui dengan mudah atau tidak dapat diakses dari internet. Ini memerlukan kontrol pengganti seperti segmentasi dan pembatasan akses yang ketat. 3. Jaringan Datar dan Kredensial yang Dibagikan Jaringan datar dan akun administrator yang dibagikan memungkinkan pergerakan lateral yang mudah setelah peretas berhasil mendapatkan akses awal. 4. Risiko Pihak Ketiga dan MSP Pemerintah kota sangat bergantung pada vendor untuk berbagai layanan. Jika mitra mereka terkena serangan, ini dapat menyebabkan kebocoran data secara tidak langsung ke kota, sehingga akses vendor harus diperlakukan dengan kehati-hatian yang sama seperti akses internal. 5. Hutang Keamanan di TI/OT Infrastruktur yang sudah tua dan kontrol keamanan yang ketinggalan zaman menciptakan risiko yang terus menerus baik di bidang teknologi informasi (TI) maupun teknologi operasional (OT). Mengapa Kota-kota Menjadi Sasaran Utama? Kota-kota sangat rentan karena mereka dapat dengan mudah dijangkau, dapat diprediksi, dan sering kali tidak siap. Hal ini membuat mereka menjadi target empuk bagi penyerang siber. Untuk itu, MSP dan CISO dapat melindungi pemerintah daerah dengan mengadopsi sikap untuk selalu mengasumsikan adanya kompromi, memperkuat identitas pengguna, melakukan segmentasi jaringan, memprioritaskan patching secara strategis, dan melatih tim untuk mendeteksi serta melaporkan insiden dengan cepat. Dengan langkah-langkah ini, kita dapat membangun ketahanan yang lebih baik dan memastikan bahwa kota-kota kita tetap aman dari ancaman siber yang semakin kompleks. Jangan menunggu hingga serangan siber menghentikan operasional bisnis Anda. Saatnya mengambil langkah cerdas untuk melindungi aset digital sejak sekarang. Dengan Barracuda Managed XDR, organisasi Anda dapat selangkah lebih maju menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks dan dinamis. Hubungi tim Barracuda Indonesia hari ini untuk mengetahui bagaimana solusi ini bekerja secara nyata dalam menjaga keamanan bisnis Anda. Untuk pendekatan yang lebih tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan spesifik perusahaan Anda, PT. iLogo Infralogy Indonesia siap memberikan pendampingan langsung serta penjelasan komprehensif mengenai implementasinya. Mulailah langkah pertama menuju perlindungan siber yang proaktif, andal, dan berkelanjutan. Jangan menunda—karena keamanan bisnis Anda dimulai hari ini.
- (021) 53660861
- barracuda@ilogoindonesia.id
- AKR Tower – 9th Floor Jl. Panjang no. 5